Artikel

RENUNGAN HARI SUMPAH PEMUDA
Oleh: Ambrosius Sukristiadi Subroto, S.Pd., MM.

PENGANTAR :
	Marilah kita sejenak meluangkan waktu untuk merenungkan hari Sum¬pah Pemuda yang istimewa ini. Maka marilah kita hening sejenak, mengendapkan segenap cipta, rasa, dan karsa kita. Kita satukan hati dan pikiran kita untuk berdoa dan mengenangkan jasa para pahlawan, terutama pahlawan nasional dan pahlawan pendidikan yang menjadi cikal bakal terjadinya mo¬mentum sumpah pemuda yang kita peringati hari ini. Kita satukan hati kita kepada Tuhan. Kita mohon berkat dan rahmat Tuhan agar kita pantas meng¬hadap kepadanya, untuk merenungkan hari yang istimewa ini.
Marilah kita hening sejenak ................

RENUNGAN HARI SUMPAH PEMUDA
       Hari sumpah pemuda adalah momentum yang pantas untuk direnungkan untuk mengenang kembali tekad seluruh pemuda indonesia di tahun 1928. Pada saat itu bangsa Indonesia masih berada di bawah cengkeraman penjajah Belanda. Tetapi justru pada saat itu seluruh pemuda Indonesia dari Sabang sampai Merauke, melupakan latar belakang agama dan golongan masing-masing untuk bertekad janji menyatukan langkah.
       Diawali dengan bangkitnya rasa nasionalisme bangsa pada tahun 1908 dalam organisasi pergerakan nasional, dua puluh tahun sebelumnya, perjungan para pemuda dimatangkan oleh penderitaan dan ancaman dari pihak penjajah. Penderitaan dan kesulitan justru mematangkan dan memurnikan perjuangan itu walau kemerdekaan masih harus menunggu 18 tahun lagi. Ya, pada tanggal 17 Agustus 1945 ketika proklamasi dikumandangkan, arti sumpah pemuda baru memperoleh maknanya. Maka tiga momentum penting ini tidak bisa dipisahkan : Kebangkitan nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, dan Proklamasi Kemerdekaan 1945.
       Sumpah Pemuda 1928 adalah momentum penting di mana para pemuda saat itu tidak hanya sekedar berjanji satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air, tetapi itu adalah tekat untuk bersatu, kesadaran baru yang terasah dalam perjalanan waktu panjang bahwa persatuan adalah modal dasar dan utama untuk berjuang melepaskan bangsa Indonesia dari cengkeraman penjajah.
       Saat itu, di mana tidak ada fasilitas kehidupan dan teknologi yang canggih seperti yang kita rasakan saat ini. Segala bentuk kehidupan memprihatinkan, tidak ada gedung sekolah, tidak ada sarana hiburan, singkatnya tidak ada kenyamanan-kenyamanan hidup seperti yang kita rasakan dan alami sekarang ini. Mereka berada di bawah ancaman penjajahan, atau bahkan mereka justru di bawah tawaran penjajah, bagi yang mau bekerja dengan penjajah akan mendapat pekerjaan dan gaji yang sangat besar bila mau bekerja sama dengan mereka. Tetapi semua itu mereka tepis demi perjuangan dan tekad untuk memerdekakan bangsa dan negaranya.
       Tinggal sekarang bagaimana kita sebagai generasi penerus bangsa ini. Sekarang kita hidup dengan segala kemajuan dan fasilitas hidup di zaman kemajuan ini. Pernahkah terbayangkan dalam pikiran kita untuk memikirkan nasib bangsa kita, memikirkan nasib persatuan dan kesatuan kita. Kita adalah bangsa yang besar. Wilayah negara kita hampir sama dengan Amerika Serikat, tetapi sudah tumbuhkan rasa nasionalisme dan kepedulian kita terhadap bangsa dan negara kita seperti halnya bangsa Amerika yang bangga terhadap bang¬sa sendiri. Atau jangan-jangan kita sudah lupa dengan atribut bangsa kita. 
       Masihkan kita ingat dengan Pancasila dan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari kita. Kemerdekaan yang kita rasakan ini adalah buah perjuangan para pendahulu kita, berkat tekad bakti para pemuda tahun 28 dalam momentum Sumpah Pemuda. Janganlah bertanya apa yang diberikan oleh negara kepadamu, tetapi bertanyalah apa yang bisa kau berikan kepada negaramu. Itulah kata bijak dari John Kneddy yang patut kita renungkan untuk hari ini. Hal ini kita lakukan, agar kita tidak terseret dalam arus besar perkem¬bangan dan pemikiran sekarang ini yang muaranya pada ketidakpedulian, apatis, dan acauh tak acuh terhadap nasib bangsa dan negara kita.
       Kita adalah generasi muda penerus bangsa, harapan ibu pertiwi tetapi apakah yang sudah kita berikan kepada negara dan bangsa. Masih pedulikah kita dengan kebesaran bangsa kita atau jangan-jangan kita telah menjadi generasi penerus bangsa yang malas, yang bisanya hanya menuntut. Atau kita ikut menambah kesalahan dan dosa-dosa pendahulu kita dengan ketidak-pedulian akan nasib bangsa kita. Kita berdalih bahwa kita bukanlah kelompok perusak moral bangsa, tetapi kita juga tidak berubah dari kebiasaan-kebiasaan buruk kita selama ini. Ingat, kebesaran bangsa ini ada 20 tahun yang akan datang berada di dalam genggaman tangan kita semua, generasi muda.
       Marilah kita akhiri renungan kita ini dengan mohon berkat Tuhan untuk kejayaan dan kemajuan negara kita, tanah air kita. (doa untuk tanah air).

4 Komentar

Tinggalkan Balasan ke שירותי ליווי Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *